Senin, 07 Februari 2011

Keputusan Terburuk adalah Keputusan Terbaik

Keputusan terburuk adalah keputusan terbaik. Mengapa seperti itu??
Saya akan mengartikan kata - kata di atas dengan persepsi positif.

Sekilas tentang keputusan :
Kita hidup di dunia ini, hal yang pasti adalah ketidakpastian tersebut. Dan kita di tuntut untuk selalu membuat keputusan dalam mengambil tindakan. Contoh gampangnya adalah waktu kita di tanya " mau makan mie ndak ?? " jawaban kita sudah pasti di antara " ya " dan " tidak ". Tetapi bagaimana kalau kita tidak membuat keputusan??

Dari sini ztyarsa akan memberikan sekilas pengalaman tentang membuat keputusan yang akhirnya akan merubah jalan pikir serta pandangan hidup saya kedepannya.

Tahun 2007 pada masa - masa kuliah tahun ke dua, saya meninggalkan kuliah untuk bermain sebuah game online di warnet maupun di rumah. Awalnya cuma mau coba - coba bermain karena kebersamaan bersama kawan - kawan di net. Kesenangan waktu itu benar - benar memberikan makna yang dalam, karena sebagai orang yang tidak pandai bergaul dan berkomunikasi, seperti sebuah berkah bisa diberi kesempatan untuk mengenal orang - orang dari berbagai suku di Indonesia. Sekitar 1 tahun lebih hanyut dalam permainan game, dan dari game saya mendapatkan penghasilan yang cukup lumayan karena bisa mendapatkan rupiah dari menjual barang - barang dan mata uang game tersebut. Lambat laun saya mulai bosan dengan game tersebut, dan juga ada hal lain yang menginginkan kembali berkuliah. Pertemuan dengan teman seangkatan yang sudah di wisuda di balairung kampus. Ingin rasanya merasakan lulus, tetapi di transkrip sks masih jauh untuk mencapai skripsi.

Di sini keraguan muncul karena takut mengakui sama ortu kalau tidak kuliah selama setahun lebih, kuliah nantinya rata - rata barengan sama adik angkatan, malu karena sudah meninggalkan kuliah dan jarang atau malah tidak ada kuliah bersama teman satu angkatan.

Dari sini seorang teman memberi tahu kalau saya harus berani membuat keputusan. Pertimbangan dari keputusan terbaik itu, saya tidak perlu bilang orang tua kalau lalai kuliah dan menghindar dari hal tersebut. Keputusan terburuknya bilang sama orang tua dan mengakui semua yang pernah di lakukan pada masa - masa itu, konsekuensi yang kita dapat pasti kena marah mungkin lebih parah lagi.

Kalau saya mengambil keputusan terbaik tersebut, mungkin itu terbaik buat saya. Tetapi akan ada sesuatu yang mengganjal karena ketidak jujuran dan keterbukaan terhadap orang tua. Mau berubah kok setengah - setengah pikirku.

Kalau memang sudah bertekad untuk lebih baik itu harus sepenuhnya. Saya ambil keputusan paling buruk tersebut dengan mengakui dan menghadapi konsekuensi dari apa yang dilakukan. Memang awalnya ketakutan tetapi setelah bilang kenyataan yang ada, dari lubuk yang paling dalam itu seperti ada rasa " plong ", lega karena sudah tidak ada yang di sembunyikan. Seiring berjalannya waktu, dukungan dan motivasi dari ortu dan lingkungan memperkuat tekad dan semangat untuk segera menyelesaikan kuliahku.

Itulah mengapa keputusan terburuk adalah keputusan terbaik. Bagi saya dengan mengesampingkan sisi egoisme dan memikirkan dampak sekitar dari keputusan yang kita ambil meskipun keputusan itu seperti momok buat diri kita, tetapi dengan keputusan itu kita mendapatkan hal yang jauh lebih baik dari apa yang kita bayangkan.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Powered by Blogger