Jumat, 15 April 2011

Merekalah Orang Tua Terbaikku

Awalnya ztyarsa berpikir kalau saya ini anak yang kurang beruntung dalam hidup ini. Sering saya melihat orang tua selalu ada buat anaknya. Sepertinya mengasyikkan bisa mengobrol dengan orang tua dan curhat bersama mereka.

Tetapi orang tuaku adalah orang yang sibuk. Ibuku dari pagi bekerja sampai sore hari, sisanya digunakan untuk istirahat. Sedangkan ayahku bekerja sampe siang tetapi hari – harinya sering digunakan untuk menyelesaikan pekerjaannya, adapun olah raga di sore hari sampai malam. Oh iya, ayahku sebagai salah satu orang yang disegani di masyarakat sekitar kami, banyak juga waktunya yang disediakan untuk masyarakat sekitar. Terkadang sampai larut malam. Sisa waktu mereka digunakan beristirahat karena telah bekerja seharian. Ada juga nenekku yang juga mengurus saya di rumah, tetapi nenekku juga orang yang sibuk pergi ke luar kota meskipun umurnya sudah masuk kepala delapan. Di rumah, nenek hanya menggunakan untuk beristirahat sejenak. Saya sangat kagum akan kekuatan, semangat dan kesehatan nenekku. ^^

Sedangkan saya adalah anak tertua dari mereka, saya sering menghabiskan kegiatan di luar rumah, terkadang sampai pagi. Mungkin secara tidak sadar itu adalah salah satu cara yang aku lakukan untuk mencari perhatian mereka.

Akhirnya, beberapa tahun yang lalu saya mulai berbicara dengan orang tua saya. Semua yang ingin aku katakan dan pertanyaan – pertanyaan yang saya pendam mulai saya keluarkan satu – persatu. Rasanya melegakan sekali, tetapi pada saat itu juga saya sadar, mereka nampak lelah seiring bertambahnya usia mereka.

Lambat laun saya berpikir, apakah mereka capek itu karena saya? PASTI itu untukku. Setiap hari mereka bekerja mencari nafkah dan menabung untuk masa depan dan kuliahku. Akupun tidak sadar akan hal itu, cuma bisa menuntut kepada mereka. Pada saat saya mendapat hasil yang tidak memuaskan dalam kuliah dan keterlambatan karena aku meninggalkan kuliahku. Mereka hanya bilang “ kalau kamu masih mau meneruskan kuliahmu, lanjutkan tetapi kali ini kamu harus serius, masih ada waktu dan belajarlah sungguh – sungguh, karena sebenarnya kamu itu mampu melakukannya “ dan satu lagi kata – kata dari ayahku “ meskipun kelulusanmu sedikit terlambat, kamu jangan merasa terbebani, karena ayah saja tidak merasa terbebani akan hal itu, berusahalah. “ ditambah lagi dorongan dari saudara – saudaraku. Itulah yang memotivasiku.

Apakah mereka layak untuk mendengar ceritaku yang membosankan? Dari sini ztyarsa berpikir, saya lah yang harus membuat mereka tertawa dan bangga. Sudah banyak kesalahan yang saya buat dan membuat mereka lelah. Sudah seharusnya saya berpikir lebih dewasa.

Di situlah ztyarsa sadar kalau kita memiliki orang tua yang betul – betul terbaik buat kita. Karena merekalah yang paling mengenal kita dibandingkan orang lain, dan masih memberikan kesempatan bagi kita untuk berkembang.

1 komentar:

ketikan gue mengatakan...

Aku rasa setelah membaca tulisan ini kita sepakat bahwa kejujuran merupakan harta terbesar dalam sebuah keluarga yang mampu menumbuhkan kepercayaan dan membunuh kesunyian hati satu sama lain hingga munculnya lantunan harapan yang lebih baik... Like this post..

Posting Komentar

 
Powered by Blogger